“PEROKOK” KELOMPOK RENTAN DITENGAH PANDEMI COVID-19

“PEROKOK” KELOMPOK RENTAN DITENGAH PANDEMI COVID-19

Pada 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Pada tanggal 7 Januari 2020, Cina mengidentifikasi pneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai jenis baru coronavirus (coronavirus disease, COVID-19). Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO telah menetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan Dunia/Public Health Emergency of International Concern (KKMMD/PHEIC).

Penambahan jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran antar negara. Sampai dengan tanggal 25 Maret 2020, dilaporkan total kasus konfirmasi 414.179 dengan 18.440 kematian (CFR 4,4%) dimana kasus dilaporkan di 192 negara/wilayah bahkan di Indonesia mulai tanggal 28 Pebruari 2020 wabah COVID-19 telah ditetapkan sebagai Bencana Nasional. Melihat penyebaran kasus yang cukup tinggi di Indonesia dan tingkat kematian yang terjadi pada kelompok rentan seperti orang lanjut usia, orang dengan gangguan imunitas, dan orang yang menderita penyakit tidak menular (PTM) kronis tentunya hal ini menjadi pusat perhatian bersama.

Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama dari beberapa penyakit tidak menular seperti kanker paru, kanker saluran pernafasan bagian atas, penyakit jantung, stroke, bronkhitis, emphysema dan lain-lain. Di Negara  maju kesadaran masyarakat untuk berhenti merokok makin meningkat, sebaliknya di negara berkembang konsumsi rokok justru cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data Riskesdas Tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi perokok laki-laki di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dan diprediksi lebih dari 97 juta penduduk Indonesia terpapar asap rokok. Bahkan pada data Riskesdas Tahun 2018 ditemukan terjadinya peningkatan prevalensi perokok pada penduduk usia 18 tahun dari 7,2% menjadi 9,1%. Selain sebagai faktor risiko dari penyakit menular merokok juga dapat mempercepat seseorang untuk mengalami infeksi penyakit menular termasuk infeksi COVID-19.

Pakar penyakit dalam spesialis paru FK-KMK UGM, dr. Sumardi,Sp.PD.,KP., FINASIM menjelaskan bahwa virus corona membutuhkan reseptor Angiotensi Converting Enzyme-2 (ACE-2) untuk melekat di saluran pernapasan. Virus Covid-19 dapat masuk ke organ tubuh melalui reseptor yang cocok dengan protein dinding luar virus. Nikotin yang ada dalam tembakau dapat mengaktifkan reseptor ACE-2. Oleh karenanya, merokok dapat meningkatkan tampilan reseptor yang diinginkan virus menjadi lebih terlihat sehingga virus dapat masuk ke dalam organ, mendapatkan makanan dan berkembang. Merokok memang mengakibatkan kerusakan saluran napas dan jaringan paru, sehingga berakibat terjadi Penyakit Paru Obstruk Kronis (COPD). Selain itu WHO mengungkapkan bahwa merokok melibatkan kontak jari tangan dengan bibir secara intens yang membuka peluang bagi virus untuk berpindah dari tangan ke mulut.

Kerentanan perokok ditengah pandemi COVID-19 cukup tinggi sehingga diperlukan sebuah upaya perokok untuk berhenti merokok. Direktorat Jenderal Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan 7 tips bagi perokok untuk berhenti merokok antara lain :

  1. Bulatkan Tekad Berhenti Merokok

Tips pertama untuk berhenti merokok adalah dengan memiliki tekad yang kuat dari dalam diri untuk berhenti merokok. Dengan tekad inilah anda bisa meyakinkan diri anda bahwa anda mampu berhenti merokok meskipun hal tersebut dirasa sulit. Tekad yang kuat akan membuat anda tidak mudah tergoda untuk merokok kembali meskipun seberat apapun godaannya.

  1. Membiasakan Berhenti Merokok

Agar anda bisa berhenti merokok maka sebaiknya mulailah untuk membiasakan diri berhenti merokok secara bertahap dengan mengurangi jumlah rokok yang anda hisap perharinya. Selain itu anda juga bisa mencoba berhenti merokok seketika atau total namun terkadang banyak orang yang masih berat untuk menjalaninya. Tetapi kembali lagi jika tekad sudah kuat maka berhenti merokok seketika bukan menjadi sebuah masalah yang berat.

  1. Kenali Waktu dan Situasi Kapan Sering Merokok

Dalam hal ini anda harus mengenali kapan biasanya anda paling sering merokok. Dengan demikian anda bisa mengubah kebiasaan sering merokok tersebut dan menggantinya dengan hal-hal positif lain seperti mengkonsumsi permen atau melakukan aktivitas lain.

  1. Mintalah Dukungan dari Keluarga dan Kerabat

Dukungan dari orang-orang sekitar supaya anda bisa berhenti merokok memang sangatlah penting. Sebab dengan dukungan tersebut anda bisa semakin termotivasi untuk berhenti merokok. Selain itu dukungan orang-orang sekitar juga bisa menjadi pengingat anda ketika godaan ingin merokok muncul kembali.

  1. Tahan Keinginan dengan Menunda

Jika tiba-tiba muncul keinginan untuk merokok, sebaiknya segera tunda keinginan tersebut maka secara perlahan anda akan melupakan keinginan untuk merokok.

  1. Berolahraga secara Teratur

Berolahraga bisa menjadi salah satu langkah untuk berhenti merokok. Dengan berolahraga tubuh akan terasa sehat dan bugar serta membantu anda lupa dengan kebiasaan merokok.

  1. Konsultasi dengan Dokter

Apabila anda merasa masih sulit untuk berhenti merokok maka silakan berkonsultasi dengan dokter. Agar anda dibantu terapi berhenti merokok secara perlahan dan semakin menyadari akan bahaya merokok jangka panjang.

Mari lakukan tips diatas untuk berhenti merokok, semakin cepat anda berhasil berhenti merokok maka akan ada banyak keuntungan yang anda dapatkan.

#MatikanRokokMuSebelumRokokMematikanMu

#BersamaLawanCOVID-19