PELATIHAN PENGAMBILAN SAMPEL MIKROBIOLOGI DAN RONDE PPRA DI BRSUD TABANAN

Persoalan antibiotik tidak hanya menjadi persoalan di Indonesia tetapi juga secara global. Penggunaan antibiotik yang bijak dan rasional dapat mengurangi beban penyakit khususnya penyakit infeksi. Sebaliknya penggunaan antibiotik secara luas pada manusia dan hewan yang tidak sesuai indikasi, mengakibatkan meningkatnya resistensi antibiotik secara signifikan. Selama beberapa dekade, sektor peternakan juga memberikan antibiotik dalam jumlah besar terhadap hewan ternak yang tujuannya mengurangi infeksi dan meningkatkan pertumbuhan. Hal ini akan menyebabkan resistensi antibiotik, menyebabkan penurunan kemampuan antibiotik tersebut dalam mengobati infeksi dan penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Hal ini menyebabkan terjadinya masalah, meningkatnya angka kesakitan dan menyebabkan kematian, meningkatnya biaya dan lama perawatan, meningkatnya efek samping dari penggunaan obat ganda dan dosis tinggi. Selain itu, penjualan antibiotic secara bebas di apotek, kios atau warung dengan menyimpan cadangan di rumah, hingga meminta dokter untuk meresepkan antibiotik merupakan masalah yang terjadi di masyarakat. Hal ini yang mendorong terjadinya resistensi antibiotik pada manusia. Kuman cepat belajar kebal terhadap penyakit, sehingga RS dan dokter harus berupaya memberi resep antibiotik secara bijak serta berupaya mensukseskan program pengendalian resistensi antimikroba (PPRA) secara terpadu dan paripurna di BRSU Tabanan, salah satunya dengan pemberian Pelatihan Pengambilan Sampel Mikrobiologi, Ronde PPRA, dan Metode Penyelesaian Kasus Infeksi Komplek (Kasus Infeksi Multi Disiplin) yang telah dilaksanakan, Senin (29/04) dengan Narasumber dr.Andaru Dahesih Dewi, M.Kes, Sp.PK (K).