Pada dasarnya semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki – laki berbeda. Namun Gender bukanlah jenis kelamin laki – laki dan perempuan sebagai pemberian Tuhan. Gender lebih ditekankan pada perbedaan peranan dan fungsi yang ada dan dibuat oleh masyarakat. Oleh karena itu, gender penting di pahami dan dianalisa untuk melihat apakah perbedaan tersebut menimbulkan diskriminasi dalam artian perbedaan yang membawa kerugian dan penderitaan terhadap pihak perempuan.
Kesetaraan gender bukan berarti akan mengenyampingkan budaya-budaya yang menjadi nilai historis bangsa indonesia, namun kesetaraan gender adalah berupaya menempatkan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Seperti halnya di lingkungan keluarga, Posisi perempuan pada umumnya dan di masyarakat Indonesia pada khususnya, masihlah berada di bawah laki – laki. Seperti kasus istri yang bekerja di luar rumah harus mendapat persetujuan dari suami, namun pada umumnya meskipun istri bekerja, haruslah tidak boleh memiliki penghasilan dan posisi lebih tinggi dari suaminya. Meskipun perempuan sudah bekerja di luar rumah, mereka juga harus memperhitungkan segala kegiatan yang ada di rumah, mulai dari memasak hingga mengurus anak. Di bidang pendidikan, perempuan menjadi pilihan terakhir untuk mendapatkan akses. Oleh karena itu, tingkat buta huruf tertinggi di Indonesia juga masih didominasi oleh kaum perempuan (kompas, 29 Juli 2010). Lingkungan pekerjaan, perempuan yang memiliki akses pendidikan yang tinggi pada umumnya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak namun, pemilihan pekerjaan tersebut masih berbasis gender. Perempuan dianggap kaum yang lemah, pasif dan dependen. Pekerjaan seputar bidang pelayanan jasa seperti bidang administrasi, perawat, atau pelayan toko dan pekerjaan dengan sedikit keterampilan seperti pegawai administrasi dan hanya sedikit saja yang menduduki jabatan manajer atau pengambil keputusan (Abbott dan Sapsford, 1987).
Gender dan kesehatan di Indonesia, dalam pelaksanaan Program Keluarga Berencana (KKBPK) selama ini, ada beberapa isu gender yang sangat menyolok. Di antaranya, pertama, akses laki-laki terhadap informasi dan pelayanan KB masih sangat terbatas, dimana pengetahuan metode KB bagi perempuan lebih besar dibanding KB Pria khususnya vasektomi. Kedua, kesertaan KB pria vasektomi hanya 0,2 persen (SDKI 2012), terbatasnya jenis kontrasepsi pria (hanya kondom dan vasektomi) menjadikan laki-laki enggan untuk menjadi peserta KB. Ketiga, masih sangat sedikit laki-laki yang mengetahui manfaat KB bagi diri dan keluarganya. Keempat, masih dominannya suami dalam pengambilan keputusan KB dan kesehatan reproduksi serta perencanaan jumlah dan jarak kelahiran anak. Kelima, anggapan masyarakat bahwa KB adalah urusan perempuan, karena kodrat perempuan untuk hamil dan melahirkan, perempuan tidak memiliki kekuatan untuk memutuskan ikut ber-KB. Keenam, masih terbatasnya pengetahuan laki-laki dan perempuan mengenai kesetaraan dan keadilan gender dalam KB dan kesehatan reproduksi. Ketujuh, masih tingginya ASFR yang menunjukkan wanita usia remaja yang telah hamil dan melahirkan. Kedelapan, norma dalam masyarakat bahwa ketidaksuburan disebabkan oleh pihak istri.
Program Keluarga Berencana adalah program terpadu yag bertujuan untuk menciptakan keluarga sehat, bahagia sejahtera dengan peningkatan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran dan pembinaan ketahanan keluarga. Salah satu program keluarga berencana (KB) adalah pengaturan kelahiran dengan menggunakan kontrasepsi. Kontrasepsi adalah suatu alat atau cara yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan. Akibat orientasi berupa sasaran demografi maka pelayanan KB kurang diarahkan pada aspek pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi bagi perempuan, tetapi lebih dijadikan sarana untuk menekan angka pertumbuhan penduduk. Akibat hal ini perempuan cenderung dijadikan obyek dalam mencapai tujuan demografis sehingga mengabaikan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia. Mulai tahun 2001 program KB menerapkan strategi kesetaraan gender dengan tujuan untuk dapat secara seimbang memenuhi kepentingan masyarakat secara luas baik perempuan dan laki-laki.
Namun berdasarkan data SDKI tahun 2017 diketahui bahwa dari 10.000 pria rentang usia 15-54 tahun, 92,5% mengaku tidak menggunakan alat kontrasepsi dan hanya 0,2% yang menggunakan metode KB mantap (vasektomi). Di berbagai komunitas, masalah KB dan kesehatan reproduksi masih sebagai tanggung jawab perempuan. Pengetahuan dan kesadaran laki-laki mengenai KB masih relatif rendah. Selain itu, terdapat keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas pelayanan kontrasepsi laki-laki. Program KB pria atau vasektomi adalah suatu tindakan medis kontrasepsi pada laki-laki dengan cara mengikat saluran seperma.Vasektomi merupakan metode kontrasepsi dengan angka keberhasilan sangat tinggi mencapai 99,85 %.
Untuk mewujudkan kondisi ini, mau tidak mau, kaum perempuan Indonesia harus sadar bahwa selama ini konsep yang berlaku adalah konsep yang berorientasi gender yang membuat membedakan peran antara perempuan dan laki – laki di Indonesia, menghambat kesempatan mereka. Kesadaran perempuan lah yang sangat di butuhkan untuk dapat meningkatkan kondisinya sendiri di bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dll. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan keputusan bagi dirinya sendiri tanpa harus di bebani konsep gender.
Program KKBPK merupakan salah satu langkah tepat untuk mendukung peningkatan kesetaraan, khususnya kesetaraan gender dalam kesehatan reproduksi, meningkatkan kesehatan ibu, serta memerangi HIV/AIDS serta penyakit menular seksual melalui Program KB dan Kesehatan Reproduksi serta peningkatan partisipasi pria dalam ber-KB dan kesehatan reproduksi. Di BRSUD Tabanan senantiasa melaksanakan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) kepada pasien post melahirkan beserta Suami mengenai jenis-jenis kontrasepsi yang bisa digunakan untuk pasien atau suami. Motivasi suami menggunakan vasektomi karena jumlah anak yang cukup, adanya dukungan dari istri dan adanya keinginan untuk membantu istri agar tidak menggunakan KB. Hal ini merupakan beberapa manfaat yang didapat dengan melakukan vasektomi. Pasangan suami istri yang telah merasa memiliki anak cukup tidak perlu merasa khawatir “kebobolan” karena metode vasektomi memiliki angka keberhasilan yang sangat tinggi. Kesetaraan genderpun dapat tercapai karena pihak laki-laki ikut berperan dan memikul tanggungjawab yang sama dalam hal pencegahan kehamilan.