Berdasarkan data WHO pada tahun 2000 kejadian rhinitis alergi yang terjadi di Amerika Utara dan Eropa Barat mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir yaitu dari 13-16% menjadi 23-28%. Peningkatan kejadian ini di dominasi oleh anak usia sekolah sebesar dua kali lipat 2. Rhinitis alergi menjadi lebih sering terjadi terutama di Negara-megara industri. Di Indonesia belum terdapat angka yang pasti, namun penelitian di Bandung mendapatkan hasil bahwa kejadian rhinitis alergi pada usia 10 tahun cukup tinggi sebesar 5,8%. Kambuhnya rhinitis alergi dapat mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan kehilangan hari sekolah, menurunnya aktivitas sosial dan pada penderita dengan alergi berat dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti depresi 3.  Rhinitis alergi memiliki gejala yang mirip dengan  pilek seperti hidung mampet, mata gatal dan bengkak, bersin serta rasa tertekan pada sinus (rongga kecil didalam tengkorak). Namun rhinitis alergi bukanlah kondisi yang disebabkan oleh virus, Alergi adalah reaksi tak wajar dari sistem imun saat melawan zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Respon sistem imun melibatkan suatu senyawa yang disebut histamine dan antibody immunoglobulin E (IgE). Sistem kekebalan tubuh menganggap zat biasa seperti debu, serbuk sari dan sebagainya sebagai ancaman sehingga menimbulkan kumpulan gejala yang menggangu.

A. Gejala Rhinitis Alergi Biasanya Muncul Ketika Kontak Dengan Allergen, Kumpulan Gejala Tersebut Yaitu :

    1. hidung meler dan tersumbat,
    2. mata berair, gatal, dan merah (konjungtivitis alergi atau alergi mata),
    3. bersin,
    4. batuk,
    5. hidung, langit-langit mulut, atau tenggorokan terasa gatal,
    6. kulit di bawah mata bengkak, berwarna biru, serta
    7. kelelahan

B. Cara Membedakan Rhinitis Alergi Dengan Pilek Dapat Dilihat Dari Lendir Yang Keluar Dari Hidung.

Rhinitis alergi ditandai dengan keluarnya lendir yang cair berwarna bening serta tidak ada demam. Gejala akan terus muncul selama terpapar allergen. Sedangkan pilek ditandai dengan keluarnya lendir cair atau kental berwarna kekuningan disertai dengan demam dan pegal yang muncul beberapa hari setelah terkena virus.

C.Penyebab Rhinitis Alergi

Rinitis umumnya terjadi saat menghirup alergen berupa:

  • serbuk bunga,
  • rumput,
  • debu dan tungau,
  • spora jamur dan lumut,
  • bulu, urine, liur, dan ketombe hewan,
  • asap rokok,
  • polusi, serta
  • parfum.

D. Siapa yang berisiko terkena Rhinitis Alergi

Semua orang bisa mengalami rinitis alergi, baik anak-anak maupun orang dewasa. Akan tetapi, risikonya lebih tinggi pada orang-orang dengan kondisi berikut.

  • Punya riwayat alergi dalam keluarga. Alergi menurun dari orangtua dan risikonya jauh lebih tinggi apabila kedua orangtua sama-sama menderita kondisi ini.
  • Menderita alergi lain atau penyakit sejenis. Terlebih lagi bila menderita asma, eksim, atau alergi makanan.
  • Bekerja di tempat yang penuh alergen. Alergen lingkungan kerja antara lain serbuk kayu dan tekstil, bahan kimia, lateks, serta asap dan bau.
  • Sering terpapar alergen. Pemicunya dapat berasal dari alergen umum ataupun zat lain yang sering terhirup tanpa sadar.

E. Diagnosis

Dalam mendiagnosis dokter akan bertanya terlebih dahulu tentang gejala dan kondisi kesehatan  pasien, kemudian  Untuk mendiagnosis rhinitis alergi, biasanya dokter melakukan pengecekan fisik dan melakukan tes alergi melalui tes darah atau tes kulit.

    • Tes tusuk kulit. Tangan Anda ditetesi beberapa alergen, lalu ditusuk dengan jarum untuk dilihat hasilnya. Titik merah menandakan alergi.
    • Tes darah. Tes ini bertujuan untuk mendeteksi antibodi IgE dalam darah Anda. Adanya IgE menandakan bahwa Anda memiliki alergi.

F. Pengobatan

Hal pertama yang harius dilakukan untuk menguragi rekasi alergi adalah sesegera mungkin menjauhi paparan alergi tersebut. Jika gejala sudah mulai mengganggu maka perlu melakukan konsultasi dan mendapatkan resep obat dari dokter.

G. Pencegahan

Berikut sejumlah perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk mencegah reaksi alergi.

  • Tetap di rumah saat debu, polusi, dan serbuk sari sedang tinggi-tingginya.
  • Segera mandi setelah seharian keluar rumah.
  • Rutin membersihkan permukaan perabot yang sering terkena debu.
  • Menggunakan masker ketika harus beraktivitas di lingkungan penuh alergen.
  • Rutin membersihkan bulu hewan peliharaan dan memandikannya bila perlu.
  • Tidak menggunakan karpet atau alas sejenisnya yang bisa memerangkap debu.
  • Menutup jendela rumah saat cuaca kering, berangin, atau berdebu.

 

Sumber :

Nugraha BW, 2005, Validitas Pemeriksaan Sitologi Eosinofil Mukosa Hidung Metode Sikatan untuk Diagnosis Rinitis Alergi, Tesis, Bagian Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorok, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Brashers, Valentina L.2007. Aplikasi klinis patofisologi :pemeriksaan & manajemen/Valentina L. Brashers ; ahli bahasa, H. Y. Kuncara ; editor edisi bahasa,devi Yulianti. Jakarta : EGC.

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/symptoms-causes/syc-20351497